SINGKONG COCOK DIBUAT RANSUM SAPI POTONG

Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) merupakan program pemerintah yang telah ditargetkan tahun 2014 dapat dicapai, untuk memenuhi target tersebut komoditas sapi potong harus mampu memenuhi permintaan konsumen sebesar 90 – 95% dari produksi nasional dan sisanya dapat dipenuhi dari impor. Namun demikian pengembangan sapi potong rakyat terkendala oleh keterbatasan lahan untuk penanaman hijauan serta ketersediaan pakan yang tidak kontinyu sepanjang tahun, terutama di daerah yang beragroekosistem lahan kering. Selain itu sulitnya penyediaan pakan yang berkualitas oleh peternak juga disebabkan karena harga pakan penguat terutama konsentrat semakin mahal.

 

Singkong merupakan salah satu tanaman pangan yang dapat digunakan sebagai sumber pakan potensial untuk sapi potong karena hampir semua bagian tanaman maupun limbah agroindustrinya dapat dimanfaatkan. Selain itu singkong merupakan tanaman yang mudah hidup hampir di semua jenis tanah dan tahan terhadap hama penyakit. Umumnya ditanam untuk diambil umbinya sebagai sumber karbohidrat. Cara perkembangbiakannya sangat mudah yaitu dengan stek batang dan sudah dapat dipanen pada umur 8 bulan. Singkong dimanfaatkan antara lain sebagai bahan baku industri dan industri rumah tangga seperti tapioka, makanan ringan, dan lain sebagainya. Limbah agroindustri singkong antara lain adalah onggok, kulit singkong, ataupun singkong afkir yang mengandung bahan kering (BK) antara 88,65 – 94,35% dan energi (TDN) antara 56,91 – 64,75% BK adalah merupakan bahan pakan yang cukup potensial digunakan sebagai sumber energi.

 

Pola integrasi antara sapi potong dengan tanaman pangan yaitu singkong melalui pendekatan pola low external input sustainable aqriculture (LEISA) diharapkan akan dapat menekan biaya pakan sehingga menurunkan biaya produksi secara keseluruhan, karena pakan merupakan komponen biaya produksi yang terbesar. Singkong merupakan tanaman pangan yang jumlahnya cukup potensial, karena merupakan bahan pakan utama setelah padi dan jagung yang dapat tumbuh hampir di semua agroekosistem. Pemanfaatan singkong saat ini didominasi untuk bahan pangan (54,2%); industri tepung tapioka (19,7%); industri pakan ternak (1,8%); industri non pangan lainnya (8,5%) dan sekitar 15,8% diekspor. Limbah pengolahan singkong pada pembuatan tapioka ataupun snack separti onggok, kulit singkong dan singkong afkir cukup melimpah di sentra-sentra pengolahan seperti di Lampung, Jawa dan Sulawesi Tenggara yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan.

 

Hasil penelitian tahun 2009 di kandang percobaan Loka Penelitian Sapi Potong, menunjukkan bahwa kandungan singkong afkir sebesar 30% dalam pakan penguat yang berbasis dedak padi mampu menghasilkan PBBH pada sapi PO jantan sebesar ≥ 0,7 kg/ekor/hari.

 

Potensi singkong

Sapi potong dalam mengkonsumsi bahan pakan memiliki karakteristik yang sangat unik, pola makan hewan ruminansia ini sangat kompleks melibatkan saluran pencernaan yang panjang dengan bantuan mikroorganisme sehingga dihasilkan zat gizi sederhana yang siap dimanfaatkan oleh tubuh ternak. Pakan yang berkualitas rendah dapat diubah menjadi protein hewani dengan kualitas tinggi yang sangat bermanfaat bagi manusia. Singkong merupakan pakan dengan nilai nutrisi yang tidak terlalu tinggi namun dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, yang paling utama adalah bagaimana kita mengungkap keistimewaan singkong menjadi sumber pakan yang dapat optimal dimanfaatkan oleh ternak. Singkong sebagai bahan pakan dengan nilai nutrisi yang rendah dapat dimanfaatkan dalam jumlah banyak, merupakan bahan pakan sumber karbohidrat mudah larut sehingga sangat mudah terserap dan dapat digunakan sebagai pakan penggemukan.

 

Mengupas potensi singkong lebih dalam yang sangat luar biasa, merupakan sumber bahan pakan yang saat panen jumlahnya melimpah dan harganya murah. Seluruh bagian tanaman dapat digunakan sebagai pakan ternak, termasuk limbah agroindustrinya seperti bonggol umbi (sisa pembuatan tape), kulit dan onggok (limbah industri tapioka), daun singkong dapat juga digunakan untuk fortifikasi limbah untuk pakan ternak karena daun singkong mengandung nilai protein yang cukup tinggi.

 

Sentra pembuatan tepung tapioka seperti di Lampung dan Pati-Jawa Tengah, penggunaan limbah telah banyak diaplikasikan oleh peternak sekitar dengan berbagai macam perlakuan pengayaan nilai nutrisi antara lain seperti fermentasi ataupun tanpa perlakuan. Limbah agroindustri yang berasal dari singkong banyak digunakan dalam usaha penggemukan sapi potong. Penggunaannya dapat mencapai 90%. Dengan menggunakan limbah tersebut maka biaya produksi yang dikeluarkan dapat ditekan.

 

Namun seiring dengan berkembangnya waktu maka limbah industri pertanian berupa onggok semakin diminati peternak sebagai bahan pakan, akibatnya harga onggok melambung, di Jawa Timur harga onggok berkisar Rp. 1.300,00/kg sedangkan singkong Rp. 500,00-700,00/kg. Beberapa peternak sering terbelenggu dengan pola pikir bahwa onggok itu baik, akan tetapi jika dilihat kesempurnaan komposisi gizinya maka singkong pasti lebih unggul dibandingkan onggok, karena singkong masih utuh belum diambil patinya dan bahkan harganya sering lebih murah dan ketersediaannya lebih kontinyu dibandingkan dengan onggok bukan di wilayah sentra industri tapioka. Oleh karena itu pemilihan pakan strategis perlu disosialisasikan kepada peternak agar tepat dalam memilih bahan pakan yang memenuhi kriteria murah, mudah dan manfaat.

 

Beberapa produk singkong dan hasil sampingnya antara lain : Gaplek, merupakan singkong dalam bentuk potongan kecil yang telah kering sehingga masih dapat diproses menjadi berbagai produk turunan singkong. Metode produksinya sangat sederhana. Singkong segar hanya dikupas, dicuci, dicacah dan dikeringkan atau dijemur. Proses ini mengurangi bobot sebanyak 20% – 30%. Gaplek atau dried cassava chips adalah komoditi yang terkenal di dunia sebagai pakan ternak dengan kadar karbohidrat tinggi. Pelet, dibuat dari umbi kering yang digiling dan dibentuk menjadi bentuk silinder dengan panjang sekitar 2–3 cm dan diameter sekitar 4–8 mm. biasanya sekitar 2–3% dari berat umbi kering hilang selama proses ini, namun pellet mempunyai kelebihan dibanding gaplek yaitu : kualitas lebih seragam, mudah disimpan dan mengurangi biaya transportasi, dan biasanya sampai di tempat tujuan pengiriman dalam bentuk utuh sementara sebagian dari gaplek akan cenderung lembab dan rusak karena panas.

 

Manfaat singkong

Produktivitas sapi potong dipengaruhi oleh banyak faktor dan pakan merupakan faktor yang paling dominan. Dengan nilai pertambahan berat badan harian (PBBH) yang tinggi diharapkan akan dapat mempersingkat waktu untuk mencapai target bobot potong yang diinginkan pada usaha penggemukan. Penggunaan pakan yang efisien menjamin keuntungan usaha yang optimal. Pengujian pakan penguat yang mengandung hasil samping tanaman singkong (berupa tepung singkong afkir) sebesar 50 dan 60% pada sapi jantan lepas sapih mampu menghasilkan PBBH sebesar 0,76 dan 0,81 kg/ekor/hari. Pakan diberikan sebanyak 3,5 % berat badan (BB) berdasarkan bahan kering (BK) dengan imbangan 20% jerami kering dan 80% pakan penguat, sedangkan bahan pakan penyusun pakan penguat yang lain adalah dedak padi, bungkil kopra, bungkil inti sawit, dan mineral. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa penggunaan singkong afkir sebesar 50% dalam pakan penguat mempunyai nilai RC ratio 1,83 dan singkong afkir sebesar 60% mempunyai nilai RC ratio yang lebih tinggi yakni sebesar 2,20; sehingga layak untuk diterapkan karena secara ekonomis menguntungkan.

Bahan pakan sapi dari singkong

Pada sapi betina, pubertas lebih dipengaruhi oleh capaian berat badan, jika pada usia pubertas sapi memiliki skor kondisi tubuh yang kurang baik maka birahi pertama belum muncul/terlambat. Hal ini akan sangat merugikan peternak karena biaya produksi yang harus dikeluarkan menjadi semakin banyak. Pakan diberikan untuk mencapai target PBBH ≥ 0,5 kg/ekor/hari agar dapat mencapai bobot badan ≥225 kg pada umur pubertas (<18 bulan). Pemberian pakan dengan kandungan singkong afkir 50% dalam pakan penguat mampu menghasilkan PBBH sebesar 0,54 kg/ekor/hari.

 

Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa penggunaan singkong afkir sebesar 60% mempunyai RC ratio 1,40 lebih tinggi dari penggunaan singkong afkir sebesar 50% dengan RC ratio 1,02. Penggunaan singkong afkir sebesar 50% dalam pakan penguat lebih layak